Cafe Racer Itu Keren… Sampai Kamu Pakai Harian
Awalnya aku kira modif motor jadi cafe racer itu bakal jadi upgrade terbaik: tampilan makin keren, aura klasik dapet, dan riding jadi terasa lebih “niat”.
Ternyata… iya sih keren. Tapi setelah 5 bulan dipakai, yang ada malah punggungku yang jadi korban.
Di artikel ini aku mau sharing pengalaman pakai Yamaha XSR 155 yang aku modif jadi cafe racer. Siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu yang lagi kepikiran modif motor ke gaya ini.
Kenapa Aku Pilih Cafe Racer?
Dari dulu aku memang suka banget sama style cafe racer. Buatku, ini salah satu gaya modifikasi yang punya kombinasi paling pas antara klasik dan sporty.
Bahkan sebelum punya motor ini, aku sering banget lihat-lihat referensi di Pinterest. Mulai dari yang clean sampai yang ekstrem. Sambil ngebayangin, “suatu hari nanti kalau punya motor, bakal aku bikin kayak gini.”
Dan ketika akhirnya punya XSR 155, rasanya kayak: ini dia moment-nya.
Motor ini juga terkenal fleksibel banget buat dimodif ke berbagai aliran. Jadi makin yakin buat dibawa ke arah cafe racer.
Part yang Aku Pasang
Modifikasi yang aku lakukan sebenarnya nggak terlalu ekstrem. Fokusnya lebih ke estetika, belum sampai ke performa.
Beberapa part yang aku pasang antara lain:
- Stang model clubman + spion bar-end
- Tail tidy biar bagian belakang lebih clean
- Lampu sein running + flasher
- Mud guard (ini sudah bawaan, dan aku putuskan tetap dipakai)
Secara tampilan? Nggak bisa bohong. Ganteng banget.
Realita Setelah Dipakai Harian
Nah, di sinilah mulai terasa “harga” dari semua kegantengan itu.
Sebelum modif, sebenarnya aku sudah sempat baca dan lihat banyak orang bilang kalau cafe racer itu nggak nyaman buat dipakai lama. Tapi waktu itu aku mikir, “ah paling nggak separah itu.”
Ternyata… salah besar.
1. Posisi Riding yang Menyiksa
Karena pakai stang model clubman, posisi riding jadi lebih nunduk.
Awalnya terasa biasa saja. Tapi setelah dipakai rutin, bahkan cuma buat dalam kota seperti sunmori, night ride, atau sekadar jalan santai, punggung mulai terasa pegal.
Pengalaman paling parah waktu aku touring Solo–Jogja.
Di tengah perjalanan, rasanya punggung itu bukan cuma pegal… tapi seperti mati rasa. Apalagi ditambah bawa tas yang cukup berat. Dari situ aku mulai sadar, ini bukan sekadar “kurang nyaman”, tapi memang melelahkan secara fisik.
2. Ribet Bawa Barang
Hal yang sebelumnya nggak aku pikirin: bawa barang jadi lebih susah.
Dengan adanya spion bar-end, aku jadi nggak bisa lagi dengan mudah nyantolin barang di stang. Hal kecil, tapi kerasa banget dampaknya kalau sering dipakai harian.
3. Spion Bar-End Kurang Fungsional
Secara tampilan, spion bar-end memang bikin motor terlihat lebih clean.
Tapi dari segi fungsi, jujur saja kurang nyaman. Sudut pandangnya sempit, jadi agak susah buat lihat kondisi di belakang. Ini tentu bisa berisiko, terutama di jalan ramai.
4. Tail Tidy dan Risiko Cipratan Air
Tail tidy bikin bagian belakang motor jadi lebih rapi.
Tapi konsekuensinya, kalau lewat genangan air atau hujan, cipratan bisa kena ke punggung pengendara atau pembonceng.
Untungnya aku masih mempertahankan mud guard bawaan, jadi cukup membantu mengurangi cipratan. Dan sejauh ini juga belum pernah kehujanan saat pakai motor ini.
5. Lampu Sein Running yang “Ada Cerita”
Lampu sein ini sebenarnya aku pasang karena terpaksa.
Waktu ganti tail tidy, karet lampu sein bawaan sudah getas dan nggak bisa dipakai lagi. Karena kepepet, aku beli lampu sein running yang cukup murah di toko variasi.
Secara tampilan sih oke, lebih simpel. Tapi ternyata ada masalah kecil, seperti kadang kedip sendiri padahal nggak dinyalakan. Bahkan waktu awal pasang, indikator sein di speedometer juga nggak berfungsi sampai akhirnya harus ganti flasher.
Jadi… Worth It Nggak?
Kalau ditanya soal tampilan: 100% worth it.
Motor ini selalu terlihat keren, baik saat diparkir maupun saat dikendarai. Aura “skena”-nya dapet banget.
Tapi kalau ngomongin kenyamanan dan fungsi, jelas ada banyak kompromi yang harus diterima.
Kesimpulan
Dari pengalamanku ini, modifikasi cafe racer itu punya dua sisi:
Kelebihan:
- Tampilan jauh lebih keren dan estetik
- Riding position terlihat sporty dan “niat”
Kekurangan:
- Posisi riding bikin cepat pegal
- Kurang praktis untuk bawa barang
- Beberapa part mengorbankan fungsi demi tampilan
Jadi kalau kamu lagi kepikiran modif ke cafe racer, coba tanya ke diri sendiri dulu:
- Apakah motor ini akan dipakai harian?
- Sering dipakai boncengan atau bawa barang?
- Sering dipakai perjalanan jauh?
Kalau jawabannya “iya”, mungkin perlu dipikirkan lagi.
Tapi kalau motor ini lebih sering dipakai santai, dalam kota, atau sekadar buat nongkrong dan tampil beda, cafe racer masih jadi pilihan yang sangat menarik.
Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi masing-masing.
The choice is yours.
Penutup
Sekian dulu sharing pengalamanku setelah 5 bulan pakai motor bergaya cafe racer.
Semoga cerita ini bisa jadi referensi atau setidaknya gambaran buat kamu yang lagi mempertimbangkan modifikasi serupa.
Terima kasih sudah membaca 🙌
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar