Postingan

Pagi Chaos, Siang WFC: Pengalamanku di Couvee Solo

Gambar
Hari ini aku mungkin mengawali hari dengan kurang baik. Aku bangun kesiangan. Entah kenapa aku bisa tidur selama itu tanpa kepikiran harus kerja hari ini. Begitu bangun, aku langsung buru-buru nyalain laptop, buka semua aplikasi kerja, sambil mikir: “Hari ini kerjaannya banyak nggak ya?” Setelah dicek, ternyata kerjaannya nggak terlalu banyak, tapi juga nggak bisa dibilang santai. Karena start yang sudah telat, aku pilih ngerjain yang paling ringan dulu. Setelah itu baru mandi dan sarapan. Dan tanpa terasa… waktu sudah jam 10 pagi. Padahal kerjaan baru mulai sedikit, belum nyuci, bahkan belum bikin kopi. Pagi ini rasanya agak chaos. Akhirnya muncul satu ide sederhana di kepalaku: “Oke, mending WFC aja biar bisa lebih fokus sekalian dapat caffeine boost.” Kenapa Aku Pilih WFC Hari Ini? Sebenarnya tanpa WFC pun kerjaan hari ini masih bisa selesai. Tapi aku kepikiran, kalau hari ini bisa selesai semua saat WFC, mungkin aku bisa nyicil kerjaan besok juga. Lumayan… biar besok ...

Lagi Jenuh Kerja Remote, Aku Coba WFC di Seperdua Kopi Jajar

Gambar
Hampir memasuki tahun keempat sebagai pekerja remote, ternyata aku mulai masuk ke fase jenuh. Bukan cuma jenuh dengan pekerjaan, tapi juga dengan suasana yang itu-itu saja setiap hari. Dulu aku kira kerja remote itu enak, lebih santai, fleksibel, bahkan lebih hemat. Tapi ternyata, ada titik di mana semuanya terasa monoton. Dan ini bukan pertama kalinya aku ngerasain hal seperti ini. Sampai akhirnya aku menemukan satu solusi sederhana yang cukup membantu: WFC (Work From Cafe). Dalam beberapa minggu terakhir, aku mulai mencoba beberapa coffee shop di dekat rumah untuk WFC. Salah satu yang aku datangi adalah Seperdua Kopi Jajar . Ini sebenarnya kunjungan keduaku ke sini untuk WFC. Dan di kunjungan ini, aku kepikiran: “Kenapa nggak sekalian dijadiin bahan tulisan aja ya?” Akhirnya, jadilah artikel ini. Sedikit Tentang Tempatnya Seperdua Kopi Jajar merupakan cabang terbaru dari Seperdua Kopi yang sebelumnya sudah ada di Jagalan dan Kratonan. Aku pernah datang ke cabang lainnya, dan sejauh i...

3 Tahun Nggak Nulis, Aku Ngapain Aja?

Gambar
Aku baru sadar… terakhir kali aku nulis di blog itu tahun 2023. Dan sekarang, tanpa terasa, sudah lewat hampir 3 tahun. Selama itu, banyak hal yang terjadi. Ada yang berubah, ada juga yang ternyata masih sama. Jadi di tulisan ini, aku cuma pengen cerita sedikit, selama aku “menghilang” dari blog, aku sebenarnya lagi ngapain aja. Masih di Tempat yang Sama, Tapi Nggak Sepenuhnya Sama Sekarang aku masih menjalani pekerjaan yang sama. Aku masih jadi Dedicated Freelance Translator di tempat yang sudah aku jalani sejak tahun 2022. Nggak terasa, sudah lebih dari 3 tahun aku bekerja di sini. Seiring waktu, tanggung jawab dan kesulitannya juga ikut meningkat. Jujur, ini cukup menguras waktu dan tenaga. Tapi ya… beginilah dunia kerja. Dunia Dewasa Itu Nyata Selain bekerja, aku juga masih sering berkumpul dengan teman-teman SMA dan aktif di kegiatan Karang Taruna di kampungku. Walaupun nggak seaktif dulu, karena sekarang aku dan teman-teman sudah punya kesibukan masing-masing, kami masih menyempa...

Cafe Racer Itu Keren… Sampai Kamu Pakai Harian

Gambar
Awalnya aku kira modif motor jadi cafe racer itu bakal jadi upgrade terbaik: tampilan makin keren, aura klasik dapet, dan riding jadi terasa lebih “niat”. Ternyata… iya sih keren. Tapi setelah 5 bulan dipakai, yang ada malah punggungku yang jadi korban. Di artikel ini aku mau sharing pengalaman pakai Yamaha XSR 155 yang aku modif jadi cafe racer. Siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu yang lagi kepikiran modif motor ke gaya ini. Kenapa Aku Pilih Cafe Racer? Dari dulu aku memang suka banget sama style cafe racer. Buatku, ini salah satu gaya modifikasi yang punya kombinasi paling pas antara klasik dan sporty. Bahkan sebelum punya motor ini, aku sering banget lihat-lihat referensi di Pinterest. Mulai dari yang clean sampai yang ekstrem. Sambil ngebayangin, “suatu hari nanti kalau punya motor, bakal aku bikin kayak gini.” Dan ketika akhirnya punya XSR 155, rasanya kayak: ini dia moment-nya. Motor ini juga terkenal fleksibel banget buat dimodif ke berbagai aliran. Jadi mak...

Blog Baru, Cerita Lama (Tapi Dengan Cara yang Berbeda)

Halo-halo… Akhirnya aku mulai nulis lagi di blog. Dan ya, ini blog baru. “Lah, terus blog yang lama gimana?” Tenang, blog yang lama masih ada. Awalnya blog itu memang aku pakai buat nulis pengalaman, entah habis jalan-jalan atau nyobain makanan. Tapi waktu semester 1 kuliah, aku dapet mata kuliah Writing yang tugasnya harus bikin artikel blog. Akhirnya blog itu aku pakai buat nugas. Sejak saat itu, isinya jadi full Bahasa Inggris. Dan jujur aja… sekarang rasanya agak “nanggung” kalau mau nulis Bahasa Indonesia di sana. Bukan karena aku nggak bisa nulis Bahasa Inggris, walaupun ya, kalau jujur… grammarku masih suka amburadul juga sih wkwk. Tapi tetap saja, Bahasa Indonesia itu terasa lebih natural. Lebih dekat. Makanya aku bikin blog baru ini. “Terus blog ini nanti isinya apa?” Kurang lebih masih sama seperti sebelumnya. Aku bakal nulis: cerita pengalaman review sesuatu hal-hal random yang pengen aku share Atau mungkin… curhat dan sambat juga, kalau lagi pengen 😄 Bahasanya juga ba...